Umemiya hampir tidak ingat bagaimana mobilnya berhenti di parkiran rumah sakit, lalu berlari dengan tergesa-gesa menuju IGD. Pakaiannya yang setengah basah karena hujan membuat lantai menjadi ikut basah, pikirannya berkecamuk, apalagi penciumannya yang terserang dengan bau obat-obatan, dan darah.

  Terlalu banyak hal yang membuatnya syok, dia bahkan tidak bisa melihat Sakura berdarah karena ujung jarinya tersayat pisau dapur, sekarang semakin dekat dirinya menuju IGD, semakin kuat bau darah Sakura yang tercampur *feromon* pahit.

  Mizuki sudah berada di depan ruang IGD dan duduk dengan kedua tangan terlipat di depan dada, wajahnya gelisah.

  "Ume," panggilnya.

  Ternyata ini nyata, tidak ada *prank*, tidak ada candaan yang konyol. Umemiya menarik napas dalam sambil melangkah berat menuju pintu IGD yang tertutup rapat. Kedua tangannya gemetar dengan keringat dingin ketika menyentuh pintu kaca yang dingin.

    "Mizu, si meng di dalem?" tanya Umemiya, suaranya sumbang, bahkan tidak mengira dia bisa bersuara dalam kondisi seperti ini.

  Mizuki mendekat ke arahnya, menyerahkan jaket yang sempat digunakan Sakura ke tangan Umemiya. Jaket basah dan bernoda darah itu belum diraih, Umemiya mengamatinya dengan baik dan hidungnya tidak bisa salah mengenali *feromon* Sakura yang menempel pada jaket itu.

  Dia pegang dan membukanya perlahan. Noda darah benar-benar hampir mengotori seluruh jaket, *feromon* yang tercium pahit dan kusam tercampur dengan bau besi. Umemiya meremasnya dengan kepala tertunduk. Sakura sebelum mengalami kecelakaan terserang rasa takut yang parah sampai *feromon* pahitnya menempel kuat di jaket. 

  Lutut Umemiya lemas ketika menciumnya, Sakura teramat ketakutan dan terluka tapi Umemiya tidak di sana untuk menyelamatkannya. 

  "Apa yang dia alami ... Kenapa bisa ...." Kosakata Umemiya kacau, dia hanya melihat ke arah kaca pintu dan melihat siluet dokter dan perawat yang sibuk dengan tubuh Sakura yang terbaring.

   "Sakura sekarang lagi di operasi, dokter bilang cedera dadanya parah, tulang rusuknya patah, pendarahan internal di perut dan paru. Mereka lagi berusaha buat nyelametin Sakura," ujar Mizuki.

  Umemiya jatuh berlutut di depan pintu, memeluk jaket Sakura yang berlumuran darah dan membiarkan *feromonnya* sendiri pecah seperti gelombang pasang. Mizuki mendesah, sedikit bersyukur karena tidak banyak orang sekarang di ruang tunggu ini, jadi tidak ada yang terganggu dengan intimidasi *feromon* *Enigma*.

  Kemudian perlahan satu persatu teman-teman yang lain datang, Tsubaki sudah menangis selama di perjalanan, tambah menangis ketika melihat ke ruang IGD yang masih tertutup, Momose menghampiri Mizuki, dan Hiiragi yang menepuk pundak Umemiya agar dia tegar.

  Hiiragi juga melihat ke arah pintu kaca, menghela napas berat dengan bahu yang tegang, sama sekali tidak terpikirkan olehnya jika salah satu dari mereka apalagi Sakura akan berada di IGD dengan kondisi yang parah. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa pada Umemiya, jadi Hiiragi hanya menghampiri Mizuki dan meminta penjelasan.

  "Mizu, ceritain."

  "Kalian semua duduk dulu. Biar gimanapun gak banyak yang bisa gue ceritain." Mizuki merangkul Momose di sisinya yang masih terguncang.

   Hiiragi duduk dan merasakan ponselnya sendiri bergetar, Kaji sudah menelepon dan mengirim pesan beberapa kali, bertanya di mana dirinya dan apa yang sedang dilakukannya sampai belum pulang. Sambil menyesal, Hiiragi membalasnya dan memintanya datang ke rumah sakit.

  Kaji datang dengan terengah-engah, bingung dengan siapa yang sedang sakit hingga harus ke IGD, matanya menatap semua orang satu persatu, kemudian jatuh pada Umemiya yang berlutut dengan jaket yang berbau darah menyengat. 

  Pikirannya segera berantakan, buruk sekali, Kaji berjalan goyah dan ingin memastikan yang ada dipikirannya kali ini salah. Tapi Hiiragi datang dan menopang tubuhnya, berbisik sesuatu yang membuat tangisnya mulai pecah.

    "Sakura kecelakaan, sekarang masih dioperasi di dalem."