Semua orang sekarang sibuk menghias rooftop menjadi tempat yang lebih nyaman dan bagus untuk pesta barbeque, Tsubaki bahkan memasang lampu-lampu kecil di pagar pembatas rooftop. Sebagian pergi berbelanja, sebagian menyiapkan panggangan dan alat-alat lainnya, lain halnya dengan Sakura yang sudah tidur lelap sejak digendong Umemiya.

  Umemiya bersyukur dia berjalan paling depan ketika mereka semua pulang, jadi tidak ada yang melihat ekspresi wajahnya yang hancur atau jemarinya yang bergetar pelan karena merasakan tubuh Sakura yang segera lemas dan tertidur begitu cepat. Ini merupakan kebiasaan yang masih membuat Umemiya tidak tenang, Sakura yang kelelahan dan tertidur tiba-tiba. Mungkin bukan pada bagian tidur yang membuatnya cemas, tapi pada bagian bagaimana mata Sakura terpejam dan dengkur halus lemah ruh *omeganya*.

  ... Bukti tak terucapkan jika memang inilah batas Sakura yang tidak bisa dilewati. Hanya ini saja yang bisa Sakura lakukan, dan itu bukan masalah besar baginya. Umemiya menerimanya, sungguh-- tapi rasa cemas itu tidak hilang begitu saja.

  Umemiya tidak membantu apapun untuk persiapan *barbeque*, hanya menyerahkan uang patungan pada Mizuki, setelah itu dia hanya membawa Sakura ke gazebo.

 "Kak Ume, tadi gue pulang dulu dan sekalian bawain selimut buat Sakura," ujar Nirei yang datang dengan selimut yang repot-repot dia bawa dari rumah.

  Umemiya yang sejak tadi melamun sambil menggendong Sakura sekarang tersenyum. "Makasih, Nirei. Gue bakal rebahin Sakura sebentar lagi."

  Nirei mengangguk, dia menyimpan selimut itu di gazebo dan terpaksa meninggalkan mereka berdua lagi. Hiiragi yang sedang menyusun kursi dan meja lipat di samping panggangan sempat menatap punggung Umemiya.

  Sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu, dan Umemiya seperti tidak berani melepaskan Sakura barang se-inci.

  "Kasih Ume waktu dulu, Gi. Gue yakin mereka gak apa-apa," ujar Mizuki yang membantu Hiiragi menata meja.

  Hiiragi mendengus kecil dengan senyuman. "Iya. Gue ngerti."

  "Ume cuma lagi mastiin kalau Sakura itu tidur," ujar Endo yang sekarang duduk di kursi. Tangannya membongkar semua belanjaan yang baru tiba.

  Togame mau tidak mau jadi ikut menatap punggung Umemiya, saat ini *Enigma* Furin itu seolah-olah memang masih memeriksa Sakura sedekat mungkin dengannya, memastikan napasnya teratur, memastikan jantungnya masih berdetak. Sakura hanya tidur.

  Kegiatan Sakura hari ini memang terlalu berani dan beresiko. Meskipun berhasil melaluinya, tidak menutup kemungkinan kondisinya bisa drop lagi, dan Umemiya sedang memastikan hal itu tidak terjadi.

  "Tunggu dulu aja, gue yakin sebentar lagi dia tenang," gumam Togame.

 Semua orang meski sesekali menoleh ke arah Umemiya dan Sakura, mereka juga mengerjakan tugas mereka dan tidak lupa untuk menikmati waktu kebersamaan.

  Setelah hampir satu jam, Umemiya baru berani menidurkan Sakura perlahan di gazebo yang sudah dia beri alas. Sakura tidak terganggu, masih tertidur pulas, bahkan ketika Umemiya menyelimutinya dan memeriksa denyut nadi hingga suara napasnya.

 Semuanya normal. Sakura aman. Hanya tertidur.

  Umemiya mengulangnya berulang kali dalam kepalanya sampai dirinya dan ruh *enigmanya* yakin. Baru setelah itu dia menyadari kedatangan Kaji.

 "Biar gantian jagainnya kak," ujar Kaji singkat. Dia tidak menyinggung soal apapun lagi.

 "... Oke. Gue gabung sama yang lain dulu." Umemiya menatap wajah damai Sakura sekali lagi, lalu dengan berat melangkah menghampiri yang lain.