"Aku ikut, tapi bukan buat jadi pahlawan," ujar Sakura pada Umemiya di depan gedung kosong menjadi lokasi. Kedua tangannya masuk ke dalam saku hoodie.

  Nada datarnya membuat semua orang merinding dikit. "Aku cuma pengen ngerasain … Kalau aku masih bisa berdiri di samping kalian buat jagain kota."

  Umemiya terdiam lama, keraguannya memang sudah sirna. Dia percaya pada kemampuan Sakura, tapi meski begitu bukan berarti Umemiya sudah tidak khawatir. Dia masih selalu khawatir, dan itu dalam batas wajar.

  Akhirnya Umemiya mengangguk pelan dengan berat, namun dia jujur mengiyakan permintaan kesayangannya.

  "Sepuluh menit ya, *little one*," ujarnya mengingatkan. "Dan kalau situasinya terlalu bahaya, aku bakal turun langsung."

 "Iyaiya!" Sakura berdecih lucu, kemudian dia menerima ciuman di bibir. "Kak Ume nonton aja, liat aku beraksi. Pasti gak kalah keren kayak dulu."

 "Hahah!" Umemiya mengusap pipinya, menempelkan keningnya di kening Sakura. "Okay, aku bakal nonton dengan serius. Kamu emang selalu keren apapun kondisinya."

....

Lokasi tawuran itu area setengah jadi, lapangan kosong dekat gudang tua. Lampu jalan remang dan jalanan yang sepi karena warga biasanya tidak melewati jalan ini. Kaji sudah memilih tempat dengan tepat. Dia bersama beberapa teman seangkatan seperti Kusumi dan Enomoto sudah berdiri di tengah jalan, bersama Sakura yang bergabung setelah menurunkan tudung hoodie-nya.

 "Gue lebih gugup sekarang dibandingkan pas ujian tadi," gumam Enomoto jujur.

  Tengkuknya sudah berkeringat karena dia merasakan berpasang-pasang mata dari atas gedung mengawasi mereka.

 Kusumi menoleh padanya dengan senyuman lembut. Kaji juga terkekeh kecil. "Jangan sampe kita kayak badut, kalahin lawan dengan cepet ya biar orang-orang di atas gedung tepuk tangan."

  Sakura memerah pipinya, lalu mendongak ke atas untuk melihat jika semua orang memang sedang menonton. Mereka berjanji untuk diam agar tidak ketahuan, Sakura juga tidak mau mendengar sorakan alay yang hanya akan membuatnya malu. Jadi lebih baik mereka terutama Endo akan menutup mulut dan tetap tenang di sana apapun yang terjadi.

 Suara langkah kaki dan umpatan mulai terdengar dari kejauhan.

Umemiya berdiri dengan tangan bersedekap, wajah super serius. Hiiragi duduk di lantai sambil memeriksa jam. Chika berdiri bersama Endo di dekat sebuah jendela yang terbuka, Chika tampak siap melompat kapan saja untuk mengambil alih pertarungan jika situasi tidak terkendali. Suo sedang membagikan popcorn yang dibawa Tsubaki beserta minuman kaleng yang dibawa Choji. Mereka semua seolah-olah sedang menonton film aksi.

 Togame tertawa kecil. "Kita ini tim backup atau rombongan orang tua nunggu anak pentas?"

 "Pfft-- anggap aja Sakura sama Kaji sekarang lagi pentas deh," seloroh Tsubaki santai.

  "Oh iya, Nirei? Tadi si meng gimana ujiannya?" tanya Momose yang sudah duduk di karpet bersama Nirei di sampingnya.

  "Tadi lumayan sih kak, dia ngerjain semua soal dengan serius. Gak dibiarin kosong kayak kemarin-kemarin," jawab Nirei.

 "Haha, sumpah? Si meng kebanyakan dimanjain sih jadi belajarnya dia males," celetuk Endo.

  "Lo bener," sahut Hiiragi setuju.