Setahun berlalu sejak pemulihan Sakura dan Umemiya bersama. Sakura sudah bukan Sakura yang dulu, tapi juga bukan Sakura yang rapuh. Dia hidup di versi tengah, cukup kuat untuk berjalan jauh, cukup sadar untuk berhenti sebelum tubuhnya sakit.

  Sore itu, Sakura dan Nirei berpisah di persimpangan kecil. Matahari turun rendah, langit berwarna jingga lembut, dunia terasa aman.

 "Gue duluan ya," pamit Nirei sambil melambaikan tangan. "Suo kayaknya nunggu di depan, jadi gue gak pulang sendiri. Lo juga tunggu kak Ume, mau dijemput kan?"

 "Iya, gue udah chat kak Ume kok. Lo hati-hati di jalan," balas Sakura.

 Mereka berpisah dengan perasaan riang tanpa curiga, sampai Sakura berhenti. Tangannya merogoh saku jaket. "… Astaga, lupa."

 Gantungan karakter kecil dengan bentuk hamster dari logam masih di sana. Hadiah kecil yang harusnya dia berikan untuk Nirei hari ini.

 “NI—!”

 Sakura berbalik dan mulai berlari.

 Langkahnya cepat, tapi bukan cepat seperti dulu. Parunya langsung memberi peringatan halus yang tajam. Namun, Sakura tetap memaksa karena tidak terlalu sakit, fokus ke punggung Nirei yang terlihat di depan—sampai tiba-tiba seseorang menabraknya.

Bunyi benda jatuh ke aspal terdengar jelas. Terlalu jelas.

 Sakura melihatnya dari jarak yang masih terlalu jauh, ponsel terlempar, layar retak. Seorang pria beta berhenti mendadak, wajahnya berubah dari kaget ke marah dalam hitungan detik.

 "*Omega* tolol!" bentaknya keras. "Mata lo ke mana, hah?!"

 Nirei membungkuk panik. "Ma-maaf! Saya gak sengaja—"

 "Alasan *omega* selalu begini, basi," potongnya tajam. "Gak punya otak, cuma nyusahin. Udah tau lemah malah berkeliaran di luar!"

 Sakura mempercepat langkah. Meski dadanya mulai terasa sesak, Sakura mengabaikannya karena saat ini keselamatan Nirei lebih penting.

 "Saya ganti, oke? Tolong—" Nirei meraih dompetnya dengan tangan gemetar.

 "Ganti?" Orang itu tertawa pendek, sinis. "Emang lo punya duit segitu? Dasar—"

 Tangannya terangkat.

 Sakura berteriak panik. Kakinya terasa berat seperti ditarik ke tanah. Jarak itu terlalu jauh. Langkahnya terlalu lambat, dan tamparan itu mendarat duluan.

Bunyi kulit bertemu kulit itu menghantam kepala Sakura lebih keras daripada apa pun. Nirei tersentak ke samping, hampir jatuh, pipinya memerah dalam sekejap.