Semalaman setelah menangis, Sakura bangun pukul lima pagi dan pergi ke dapur diam-diam agar tidak membangunkan Kaji di sampingnya atau Hiiragi yang tidur di ruang tamu.

 Baru kali ini dia berjalan lama menggunakan kedua kakinya sendiri tanpa rasa cemas, tapi hatinya sakit jika mengingat Umemiya yang akan panik melihatnya seperti ini.

  Sakura mengambil gelas dan menuangkan air perlahan. "Padahal semuanya gara-gara gue... Kenapa malah gue yang marah sama kak Ume kemarin?"

  Air jernih dalam gelas dipandangi, lalu Sakura minum sampai habis. Biasanya Umemiya yang sudah menyiapkan air minumnya, setelah itu menyiapkan bak mandi, lalu menyiapkan sarapan, bahkan bersih-bersih rumah. Dia tidak membiarkan Sakura bekerja sedikitpun. Sepertinya bagi Umemiya, dia lebih baik mengerjakan semuanya sendiri dibandingkan harus melihat Sakura sesak napas karena lelah.

  "Sakura? Udah bangun?" Suara Hiiragi di belakangnya membuat Sakura segera menoleh.

  Gelas disimpan kembali, lalu Sakura mengangguk. "Iya, maaf kak Hii semalem jadi ngerepotin."

  Hiiragi menghela napas panjang, berdiri di sampingnya sambil meraih minum untuknya sendiri. "Ngerepotin apa sih, gak usah sungkan, meng. Lo bisa tidur lagi, semalem kan tidurnya larut banget. Nanti dibangunin kalau gue udah siapin sarapan."

 Sakura malah menggelengkan kepalanya, dia menarik kursi tinggi dan duduk di depan counter dapur. "Gak kepengen tidur lagi kak. Biar gue di sini aja."

  Hiiragi mengangguk mengerti dan ikut menarik kursi agar duduk juga. Selama beberapa menit mereka hanya duduk seperti itu tanpa pembicaraan apapun, Hiiragi juga masih mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur. Semalam dia tidak bisa tidur sama sekali, beberapa kali bolak-balik memeriksa ke kamar untuk melihat kondisi Sakura, tapi untungnya sampai pagi Sakura sudah mendingan dan tidur nyenyak.

  "Kak Hii ... Gue harusnya gak marah kemarin, harusnya bisa lebih sabar demi kak Ume ... Tapi gue egois banget dan nyakitin kak Ume, sekarang kak Ume jadi harus pergi padahal gak salah apa-apa," gumam Sakura. Kuku jarinya menggores pinggiran gelas kaca yang dia genggam erat. "Gue bilang gue gak cacat ... Padahal kan emang iya. Kak Ume sedih banget dan berusaha sangkal kalau gak begitu maksud dia. Tapi, itu yang gue rasain selama ini. Padahal kak Ume cuma khawatir aja ...."

  Hiiragi menoleh ke belakang, melihat Kaji yang baru bangun dan menghampiri mereka, setelah itu dia menatap Sakura yang menunduk lesu.

 "Ume bilang hal yang sama, meng. Katanya dia nyakitin lo. Tapi menurut gue kalian tanpa sengaja emang lagi nyakitin satu sama lain, karena perasaan kalian juga sama kuatnya. Gue yakin kalian bakal baik-baik aja, cuma perlu saling pengertian aja," ujar Hiiragi lembut.

 Kaji datang dan tidak menginterupsi, hanya mengambil minum untuknya sendiri, lalu membuat segelas susu hangat untuk Sakura. "Sambil minum susu ya."

  Sakura tersenyum kecil. "Makasih."

  "Ini langkah bagus buat kalian yang pisah dulu sambil sama-sama intropeksi diri, bukan berarti udah gak saling sayang kok. Justru nanti malah tambah pengertian, kalian bakal makin erat hubungannya," ujar Kaji.

 "Semoga aja. Gue gak mau pisah lama-lama... Pengen cepet ketemu buat minta maaf. Tapi sebelum itu gue pengen lebih baik dulu, biar gak bikin kak Ume khawatir." Sakura tersenyum, tampak halus dan tenang sekali setelah berbicara bersama Kaji dan Hiiragi.

. . . .

 Hari pertama Umemiya menemui psikiater, dia memang gugup, tapi melihat lebih banyak pengobatan yang dialami Sakura hal ini tidak sebanding dengan kesulitan yang Sakura alami.

  Dia sudah membulatkan tekad, sudah berjanji pada dirinya sendiri dan Sakura jika dirinya akan berani mengambil langkah ini. Demi dirinya, terutama demi Sakura.

 Umemiya pergi sendiri, hanya mengabari pada Sakura melalui telepon jika dia sudah membuat janji temu dengan psikiater. Sakura menyemangatinya lewat telepon, berkata padanya agar tidak perlu memikirkannya dulu karena ada Hiiragi dan Kaji yang menjaganya. Umemiya tidak bisa berbohong jika dia masih khawatir, jadi ujaran lembut Sakura tidak dibalas, Umemiya hanya berkata dia merindukannya.