Satu jam yang lalu.

  Kota Makochi malam itu sunyi, lembab dan berkabut. Sakura berjalan pulang setelah selesai patroli dengan payung dan plastik berisi roti hangat yang dia dapat dari salah satu warga. Tadinya Sakura pikir dia akan mampir ke Pothos, tapi udara terlalu dingin dan dia ingin segera sampai di rumah untuk mandi air hangat dan tidur.

  "Kak Ume udah selesai belum ya sama kerjaannya?" gumam Sakura pelan di sela langkah pelan. Jika Umemiya sudah di rumah dan sedang memasak makan malam, Sakura semakin tidak sabar untuk pulang.

  Pipinya menghangat mengingat hal menyenangkan yang akan terjadi setelah dirinya pulang. Mandi air hangat, makan malam ditemani Umemiya, lalu mungkin menonton film sambil berpelukan di sofa. 

  Suara langkah di belakangnya membuat Sakura berhenti, dia menoleh, tapi tidak ada siapapun di belakang.

  Sakura melanjutkan langkah dengan lebih cepat, entah mengapa perasaannya mulai tidak enak. Udara juga semakin dingin, namun detik berikutnya lima bau *feromon alpha* tercium diantara rintik hujan, tajam dan agresif, jadi Sakura terpaksa berhenti lagi. Khawatir jika mereka adalah ancaman bagi warga sekitar.

  Dia bahkan belum sempat balik badan ketika sebuah lengan menghantam belakang kepalanya. Pandangan Sakura segera buram, tapi dia masih sadar dan tidak pingsan di tempat, tubuhnya hanya terdorong  ke depan dan membuat payung serta rotinya jatuh ke tanah basah.

  "*Anjing*, apa gue kurang keras?" Salah satu dari alpha di sana berdecak kesal. 

  Sakura tidak memiliki banyak waktu dalam kondisi seperti ini, dia hanya menyadari jumlah mereka dalam sekali pandang, lalu mengepalkan tinjunya untuk memukul alpha itu.

  Bunyi '*Brak*!' yang keras teredam oleh suara hujan, empat orang alpha lainnya tidak memperdulikan teman mereka dan mulai menyerang Sakura bersamaan. Hujan dan juga jalanan remang biasanya bukan hambatan bagi Sakura, tapi pukulan di belakang kepalanya tadi berdenyut menyakitkan dan membuat gerakannya lebih lambat dari biasanya.

  "*Alpha* kayak kalian ternyata lemah banget sampe perlu nunggu malem buat nyerang gue doang?" desis Sakura kesal. 

  Seharian ini selama patroli bersama timnya tidak ada orang mencurigakan yang mereka temui, tapi ternyata para berandalan yang entah apa tujuannya ini keluar pada malam hari, Sakura perlu menyerahkan mereka pada tim yang patroli malam ini di area sini, tapi sepertinya mereka belum datang.

  '*Ah, sial banget ... Padahal pengen cepet pulang ketemu kak Ume.'* 

  Sakura berpura-pura pukulan di belakang kepalanya tidak sakit, jadi dia mulai meladeni mereka lagi. 

  "Ternyata Umemiya itu nerima orang luar asalkan *omega* ya, *pftt*! Udah gue duga sih, *Enigma* itu cuma sok jadi pahlawan padahal cuma orang cabul." Salah satu dari mereka menerjang Sakura, berhasil melayangkan pukulan di tulang rusuk kirinya dan membuat Sakura terbatuk.

  "Iyalah, lo liat aja berapa kali dia nolak *alpha* yang mau masuk kawanannya cuma karena gagal tes sama empat raja? Tapi gue yakin kalau omega cantik gak pake tes segala, iya kan, Sakura?"

  Dia mengeluarkan pisau, bilahnya tajam dan memantulkan cahaya lampu neon di sisi jalan. Sakura menggertakkan giginya kesal. "Bacot banget. Jelas gak akan diterima *alpha* kayak kalian yang bisanya ngeroyok sambil bawa senjata!"

  "*Sssh*, gak usah sok tangguh."

  Sakura mengepalkan kedua tangannya lebih erat, dia sudah berlatih bertarung dengan Hiiragi agar bisa melawan musuh yang memegang senjata, tapi menghadapinya langsung seperti ini tetap membuatnya gugup.

  '*Kak Hii pakai pisau boongan, tapi yang ini asli ... Harus lebih fokus!'*

  Baru berujar seperti itu dalam hati mereka sudah menerjangnya sekaligus, Sakura bisa menghindari pada serangan pertama dan kedua, membalas tendangan pada salah satu dari mereka, tapi matanya terlalu fokus pada ujung pisau sampai gerakannya menjadi mudah dibaca lawan.