Saat Sakura akhirnya pulang, dunia menjadi lebih lambat baginya. Pergerakannya pelan, bahkan tarikan napasnya ketika menghirup udara segar di luar sangat hati-hati. Umemiya tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari Sakura, ketika di mobil, maupun ketika mereka sampai.
Hiiragi yang menyetir mobil selama dalam perjalanan, Kaji juga ikut untuk mengantar.
"Biar gue turunin kursi rodanya dulu," ujar Kaji. Dia turun duluan dari mobil, lalu berjalan ke arah bagian belakang mobil untuk menurunkan kursi roda.
Hiiragi juga keluar dan Umemiya menyusul. Sakura adalah yang terakhir turun. Umemiya mengangkatnya perlahan, menurunkannya di kursi roda dan memastikan Sakura tidak merasa sakit di manapun. "Meng, ada yang sakit? Tadi Hiiragi bawa mobilnya kecepetan gak?"
Umemiya berlutut di depannya, merapikan rambut Sakura yang mulai panjang dan menerima gelengan kepala lembut.
"Engga ... Aku gak apa-apa," jawab Sakura. Di tangannya dia memegang lembut sapi yang selalu dia bawa-bawa.
Hiiragi di belakangnya tersenyum tipis, mencuri usapan lembut di puncak kepalanya sebelum pergi menurunkan barang-barang di dalam mobil. "Ume bawa masuk duluan aja si mengnya. Barang biar gue bawain."
"Oke, Gi. Makasih."
Kaji membantu dengan membawa tas di tangannya, lalu berjalan lebih dulu ke arah pintu rumah Umemiya dan Sakura. Ternyata segera terbuka dan Kotoha yang mengenakan celemek keluar dari sana. "Kalian udah dateng?! Oh, meng!!"
Sakura melihat Kotoha yang berlari ke arahnya, lalu tercium aroma rempah-rempah darinya dan Sakura menduga Kotoha pasti sedang sibuk memasak. "Kotoha."