Di luar kaca ICU, malam ke sekian yang dihiasi hujan semakin mencekik Umemiya hidup-hidup. Lampu-lampu putih rumah sakit, aroma antiseptik, dan dokter serta perawat yang berlalu lalang membuatnya tidak tahan lagi. Segal hal terasa mencekam dan menyakitkan untuk dilihat ketika Umemiya menyadari jika Sakura masih koma.
"Hh ...." Umemiya menghela napas, lelah dan sesak. Dia duduk di kursi keras yang sama dia duduki sejak Sakura masuk ruang ICU, Umemiya selalu bolak-balik dari markas ke rumah sakit, tapi setelah para pelaku ditangkap dia tidak memiliki alasan untuk pergi lagi.
Umemiya akan duduk di sana dengan sabar, agar ketika Sakura bangun dia ada di sana untuk melihatnya pertama kali. Umemiya menunggu momen itu setiap detiknya, semakin lama semakin cemas, dan pada akhirnya dia berakhir tidak tidur lagi.
Hiiragi duduk di sisi Umemiya, kedatangannya mengejutkan karena Umemiya tidak menyadari sekitar.
"Ume, Sakura banyak yang jagain. Lo bisa pulang sebentar buat tidur," ujar Hiiragi hati-hati.
Ini adalah saran yang sudah dia katakan berulang kali sejak Sakura di rawat. Karena Hiiragi tidak pernah melihat Umemiya pulang untuk istirahat, dia hanya bolak-balik markas dan rumah sakit tanpa tidur, wajahnya sudah seperti mayat hidup, jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan orang sakit.
Umemiya hanya bersandar di kursi. "Pulangpun gue gak bisa tidur, Gi."
Hiiragi tidak ingin memaksa lagi, jadi dia hanya menyerahkan sebotol mineral pada Umemiya. "Minum nih. Bentar lagi Kotoha pasti dateng bawain lo makan dan juga baju ganti."
Botol diterima, lalu Umemiya minum seteguk. Air yang mengalir di kerongkongannya yang kering setidaknya membuat Umemiya rileks. Dia melirik pintu ICU lagi dan bersandar pada kursi.
Hiiragi mengawasinya, Umemiya sedang bernapas tenang, terlihat sedikit lebih baik meski rambutnya kusut dan bajunya belum ganti dari kemarin. Matanya merah karena lelah dan kantuk, tapi Umemiya entah mengapa sama sekali tidak ingin memejamkan mata, padahal dia bisa pingsan kapan saja.
Kedipan mata Umemiya melambat, dia menggelengkan kepala, tidak ingin tidur, tapi kemudian kelopak matanya sangat berat dan menutup. Kepalanya jatuh bersandar pada tembok di belakangnya.
Hiiragi mengambil alih botol minum yang dipegang Umemiya, meringis kecil dan membuang botolnya ke tempat sampah. "Sorry, Me ... Tapi tubuh lo emang perlu tidur."
Kemudian Hiiragi menghela napas lega karena akhirnya Umemiya tidur, meskipun karena obat tidur yang dia campurkan ke dalam botol minumnya. Yang tidak Hiiragi tahu adalah ketika Umemiya jatuh tertidur, mimpi buruk itu datang lagi bagai badai yang bergulung-gulung.
Sakura yang tidak bergerak.
Di dalam mimpinya Umemiya berdiri di tegah jalan yang gelap, hujan deras, bau *feromon* pahit Sakura, dan bau darah yang menusuk. Lampu mobil remang-remang di kejauhan, sesuatu tergeletak di tengah aspal.
Tubuh kecil. Rambut hitam putih.Tidak bergerak.
"Sakura?" Suara Umemiya bergetar. Ketika dia mendekat, hujan membersihkan wajah yang tergeletak itu.
Pucat dan dingin, tidak ada rona kemerahan di pipinya, tidak ada detak jantung, tidak ada *feromon*, tidak ada napas-- Sakura seperti boneka yang tidak bernyawa.
Umemiya berlutut, kedua tangannya terlalu gemetar untuk meraihnya, tapi dia berhasil mengangkat Sakura. Tubuhnya ringan sekali, dan sangat dingin.
"S-sakura ... Tunggu, kita ke rumah sakit!" Suaranya pecah, pandangan Umemiya mengabur ketika dia menatap sekeliling untuk mencari bantuan.
Harusnya saat ini ada ambulan, harusnya ada seseorang yang bisa membantu, harusnya Sakura berhasil di bawa ke rumah sakit, harusnya Sakura selamat. Namun, sejauh mata memandang dia hanya bisa melihat kegelapan total.
Tempatnya berlutut inilah satu-satunya yang diterangi cahaya dari lampu mobil. Napas Umemiya mulai cepat, dia mengeratkan pelukannya pada Sakura dan melindunginya dari hujan yang turun semakin deras.
Wajah pucat Sakura disentuh, mengguncangnya perlahan dan tidak ada respon.