Embun dingin naik dari aspal, lampu-lampu jalan tampak lebih redup dan muram dari biasanya. Hujan belum reda, malah terasa lebih deras dari waktu ke waktu. Sekarang sudah pukul tiga lebih tiga puluh menit dini hari, tapi tidak ada satupun yang hendak pulang sebelum menemukan bukti-bukti. Mizuki tanpa henti menyusuri jalan dengan senter di tangan.
"Sugishita dan X.1 lainnya istirahat dulu," titah Hiiragi sambil menurunkan tudung jas hujannya dan kembali melangkah menuju gang yang sudah dua kali dia periksa.
Hiiragi entah mengapa terus-menerus memeriksa gang ini. Suo menyetujuinya dan duduk di halaman depan rumah warga yang kering, di sana bahkan disediakan makanan dan minuman hangat dari warga.
"Gak ada salahnya istirahat lima belas menit, minum dulu. Biar gue yang bawain kopinya buat kak Hiiragi dan yang lain," ujar Suo.
"Kalau gitu kita duduk dulu di sini," jawab Anzai sambil menghela napas lelah. Dia duduk setelah membuka jas hujannya yang basah kuyup.
Sugishita tampak enggan, tapi akhirnya dia pun duduk di ujung lain dengan segelas kopi hangat. Kiryu dan Tsugeura pun ikut duduk untuk beristirahat.
"Gue harap kita nemuin bukti ... Biar pelaku bisa kita buru secepatnya," Tsugeura. Kiryu mengangguk setuju di sebelahnya.
Suo membawa enam kopi, menyusuri jalan gang yang sempit dan melihat Togame sedang berlutut di tanah, dia sedang mengendus tanah becek yang kotor. Jika orang asing melihatnya pasti terkejut sampai pingsan melihat *Enigma* Shisitoren berlutut hampir menempelkan hidungnya di tanah kotor, Suo segera mengerti dan berlari mendekat, ternyata di sana ada jejak sepatu, hampir terhapus oleh hujan, tapi masih ada jejaknya.
"Kita nemu bukti?" tanya Suo tidak sabar.
Hiiragi tatapannya fokus seperti laser, menatap tajam pada jejak-jejak sepatu menggunakan senter yang dia bawa. "Ya, ada jejak sepatu."
"Banyak ... Bukan cuma satu orang," gumam Mizuki, suaranya rendah namun tegang. "Ukuran sepatunya besar."
Suo melebarkan matanya, sebelum dia bersuara Togame sudah menggeram kesal. *Feromon* *enigmanya* menyentak setiap orang dengan kejutan yang menekan. Tubuhnya masih berjongkok di sana bersama Endo, matanya menoleh ke arah Hiiragi seolah menyimpan sebuah informasi yang memang sedang ditakuti olehnya.
Hiiragi meremas senternya erat, buku jarinya memutih, kemudian ujaran Togame seperti bom yang dijatuhkan tepat di depan wajahnya.
"Bau *alpha*, lebih dari tiga." Togame berdiri, apalagi setelah mendengar suara langkah kaki cepat Umemiya yang datang. "Ada bau bunga sakura juga di sini."
Umemiya basah kuyup, pucat, matanya memerah dan urat-urat di pelipisnya menonjol. Di tangannya dia memegang sebungkus plastik yang isinya tercium bau besi yang pekat. "Ada lima. *Alpha* yang sentuh Sakura sebelum kecelakaan."
Plastik di sodorkan dan Endo mengerutkan keningnya karena mual, bau darah dari sana membuatnya lebih pucat. "Apa-apaan Ume, lo bawa apa?"
Chika tanpa bicara apapun merebut plastik itu, lalu melangkah menuju tempat teduh diikuti yang lainnya. Chika membuka plastik dan menemukan jaket robek yang warnanya merah darah. Begitu dikeluarkan Endo pun melotot, Togame tanpa perlu bertanya pun sekarang mengerti jika ini jaket Sakura.
"Gue kira warna jaketnya emang merah," gerutu Endo, setengah tidak percaya jika Sakura sebelum dibawa ke rumah sakit berlumuran darah seperti itu.
Chika membentangkan jaket itu. "Togame, coba cium."